DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-73
PENATAGUNAAN / ALOKASI AIR


Pola Operasi Waduk dan Alokasi Air (POWAA) Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Brantas Musim Hujan 2010/2011 Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Brantas mencakup areal seluas + 12.000 km2, mengalami dua musim dalam setahun yaitu musim hujan dan musim kemarau. Air sungai di DAS Kali Brantas dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain untuk irigasi, air baku untuk air minum dan industri, pembangkit tenaga listrik, perikanan, penggelontoran dan pariwisata. Curah hujan tahunan di DAS Kali Brantas rata-rata adalah + 2.057 mm*), sekitar 83 %-nya*) jatuh pada musim hujan yang berlangsung + 6 bulan*) dalam setahun. Distribusi curah hujan yang tidak seimbang tersebut mengakibatkan besarnya perbedaan jumlah ketersediaan air di sungai pada kedua musim tersebut, berlebihan di musim hujan dan kekurangan di musim kemarau. Untuk mengendalikan ketidakseimbangan jumlah ketersediaan air tersebut serta untuk mengoptimalkan manfaat air di DAS Kali Brantas telah dibangun beberapa bendungan seperti Sutami, Lahor, Selorejo, Bening dan Wonorejo. Beberapa bangunan lain yang juga telah dibangun di DAS Kali Brantas diantaranya Bendungan Sengguruh, Wlingi, Lodoyo, Bendung Mrican, Jatimlerek, Menturus, Lengkong Baru dan Gunungsari serta Gubeng. POWAA POWAA dibuat untuk digunakan sebagai pedoman pengaturan air pada kondisi normal (bukan kondisi banjir) selama 6 bulan. Untuk operasional di lapangan dibuat program yang lebih rinci dan disesuaikan terhadap perkembangan kondisi aktual. POWAA dibuat 2 (dua) kali dalam setahun yaitu untuk musim hujan, berlaku mulai awal bulan Desember s/d akhir bulan Mei. Dan yang kedua untuk musim kemarau, berlaku mulai awal bulan Juni s/d akhir bulan Nopember. A. Dasar Pembuatan POWAA Musim Hujan 2010/2011 a) Ketersediaan air
  1. Berdasarkan analisa data debit pada tahun-tahun sebelumnya, dapat diperkirakan besarnya debit pada tiap-tiap dekade dengan beberapa tingkat keandalan.
  2. Evaluasi data debit selama 28 tahun terakhir dilakukan di semua stasiun pengamatan.
  3. Berdasarkan butir 2) diatas, untuk perhitungan POWAA Musim Hujan 2010/2011 digunakan data debit dengan keandalan debit sebagai berikut :
 
  • Sengguruh, Sutami, Wlingi, Lodoyo dgn keandalan debit 20% s.d 50%
  • Selorejo dengan keandalan debit 20% s.d 50%
  • Bening dengan keandalan debit 65%
  • Bening dengan keandalan debit 65%
  • Wonorejo dengan keandalan debit 45% s.d 65%
  • PLTA Tulungagung Selatan 35% s.d 50%
Serta dengan memperhatikan kondisi air sampai dengan dekade III Nopember 2010. b)Alokasi air.
  1. Alokasi air untuk keperluan irigasi (termasuk kebutuhan non-irigasi di jaringan yang bersangkutan) ditetapkan berdasarkan data kebutuhan air yang disampaikan oleh Dinas PU Pengairan Propinsi Jawa Timur melalui faksimile pada tanggal 25 Oktober 2010 dengan mempertimbangkan ketersediaan air sebagaimana pada butir a, serta kesepakatan atas beberapa usulan yang disampaikan pada rapat TKPSDA tanggal 25-26 Nopember 2010.
  2. Untuk Kali Surabaya (termasuk didalamnya alokasi untuk air minum, industri, irigasi dan pemeliharaan sungai) diberikan sebesar 20 m3/dt melalui Pintu Air Mlirip. Namun apabila debit air di Stasiun Pengamatan Perning sudah cukup besar, pemberian air dari Pintu Air Mlirip dapat dikurangi.
  3. Untuk keperluan non-irigasi di sepanjang Kali Brantas dialokasikan sesuai dengan data perijinan penggunaan air yang ada, yaitu sebesar 1,67 m3/dt.
B. Penerapan POWAA di lapangan
  1. Dalam rapat TKPSDA tanggal 25-26 Nopember 2010 ditetapkan bahwa untuk Musim Hujan tahun 2010/2011 dimulai pada bulan Desember 2010 sampai dengan akhir Mei 2011 dipakai POWAA seperti pada Lampiran-3.
  2. Jumlah ketersediaan air (debit inflow dan remaining basin) yang tercantum di dalam POWAA tersebut pada butir a merupakan debit dengan tingkat keandalan tertentu, dengan demikian berarti masih ada kemungkinan di lapangan terjadi debit yang lebih kecil dari yang tercantum di dalam pola.
  3. Apabila kondisi ketersediaan air tidak seperti yang ditetapkan dalam POWAA, maka dilakukan penyesuaian alokasi air dengan ketentuan sebagai berikut:
 
  • Apabila ketersediaan air ke pemanfaat kurang dari 20 % dari POWAA, maka alokasi air diberikan secara proporsional sesuai dengan kekurangan debit yang tercantum dalam Pola.
  • Apabila ketersediaan air ke pemanfaat berkurang lebih dari 20 % dari POWAA berturut-turut selama 1 dekade (10 hari), maka TKPSDA menyiapkan usulan perubahan/revisi pola yang kemudian akan dibahas dalam rapat TKPSDA.
C. Pengoperasian Waduk Dan Pintu Air
  1. Batasan Kondisi Normal
  2. Pengoperasian

SISDA BBWS BRANTAS

Jl. Raya Menganti No.312
Wiyung - Surabaya
Jawatimur - Indonesia

Telp/Fax: 031-7521547
7521645/031-7523488
E-Mail : sisdabrantas@gmail.com
sekretariatbbwsbrantas@gmail.com

Kementerian Pekerjaan Umum Kementerian Pertanian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dewan Sumber Daya Air Nasional Kementerian Lingkungan Hidup Badan Pusat Statistik Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional Badan Nasional Penanggulangan Bencana Komite Nasional Indonesia untuk Bendungan Besar Kemiteraan Air Indonesia

belum ada data bukutamu

Pengembangan Sistem, Data dan Informasi SDA Balai Besar Wilayah Sungai Brantas. © Unit Sisda